jump to navigation

Darah Perawan, Seberapa Penting? Mei 14, 2008

Posted by tricyra in kesehatan.
add a comment

DALAM berbagai agama seperti Islam, Kristen, Hindu dan Yahudi telah berkembang keyakinan bahwa hilangnya keperawanan sebelum pernikahan adalah hal yang sangat memalukan. Bahkan dalam ajaran Kristen, keyakinan akan keperawanan Bunda Maria (Ibu Jesus) adalah fondasi kuat dalam menempatkan keperawanan sebagai hal penting dalam kehidupan. Secara tradisional, dalam perayaan pernikahan di Barat, cadar serta gaun putih juga dijadikan sebagai sebuah simbol keperawanan seorang pengantin.

Istilah keperawanan memang telah digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tak pernah berhubungan seksual. Keberadan selaput dara yang utuh seringkali dijadikan bukti fisik dari keperawanan. Lebih jauh lagi, masayarakat di negara berkembang yang persepsi serta pengetahuan seksualnya rendah, keyakinan akan keperawanan ditandai dengan keluarnya darah pada saat malam pertama. Darah inilah yang dikenal dengan istilah “Darah Perawan”.

Akan tetapi, seperti dipaparkan Profesor Wimpie Pangkahila Sp.And, pakar Andrologi dan Seksologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali, darah perawan itu sebenarnya hanya mitos belaka “Wanita yang tidak terangsang untuk ngeseks atau sedang berada dalam tekanan psikogenik (kejiwaan dan genetika), bisa mengalami pendarahan ketika ia memaksakan hubungan seks,” ungkapnya dalam sebuah makalah tentang kesehatan seksual.

“Namun begitu, wanita yang benar-benar terangsang hasratnya dan terbebas dari beban psikologis tidak akan mengalami pendarahan meski ia melakukann hubungan seks untuk pertamalinya. Oleh sebab itu, sangat jelas dan tidak diragukan lagi bahwa istilah darah perawan hanyalah mitos belaka,” jelasnya.

Sayangnya, lanjut Prof. Wimpie, mitos soal darah perawan seringkali menimbulkan masalah yang merugikan wanita. Tak jarang para suami yang berani menceraikan sang istri jika ia tidak melihat darah perawan pada saat malam pertama.

Di sebuah negara seperti Turki, ada dokter yang bersedia melakukan uji keperawanan atas permintaan pasien, meskipun hal ini ditentang oleh Asosiasi Kedoketaran di sana. Uji keperawanan sebenarnya tidak berarti sama sekali karena selaput dara yang robek atau rusak bukan berarti seorang wanita pernah melakukan hubungan seks.

Hal itu, menurut Wimpie, dapat disebabkan penggunaan tampon (sumbat kapas sebesar jari) atau kebiasaan masturbasi memakai alat yang dimasukkan pada vagina. Di lain pihak, ada pula para wanita yang organ intimnya tidak memiliki selaput dara dengan persentase kurang dari 0,03 persen (Jenry et al 1987).

Sebaliknya, keutuhan selaput dara pun tidak serta merta menunjukkan seorang wanita tak pernah melakukan hubungan seks. Faktanya, selaput dara tidak harus selalu robek setelah berhubungan intim. Hasil pengujian selaput dara pada 1.000 remaja putri yang pernah melakukan seks lewat vagina menunjukkan kebanyakan selaput tampak kacau, tidak menentu, dan mengumpul di bagian pinggir vagina. Jarang terjadi selaput dara terbelah secara komplet atau benar-benar sobek.

Lebih jauh, status selaput dara juga tidak berkaitan dengan perilaku seksual. Utuhnya selaput dara tidak berarti bahwa wanita tidak pernah melakukan aktivitas seks. Seorang wanita mungkin saja pernah melakukan berbagai jenis aktivitas seks termasuk oral, kecuali seks dengan penetrasi. Pada kasus ini, tentu saja selaput dara masih akan tetap utuh.

Pada situasi yang tak jelas ini para dokter dituntut menjelaskan hal yang sesungguhnya tentang keperawanan dan selaput dara ini. Sayang, ada beberapa dokter yang justru melakukan praktik memperbaiki atau meniru selaput dara. Pada tahun 1960, praktik yang disebut hymenoplasty berkembang di Jepang untuk membantu banyak gadis yang sudah sering melakukan hubungan seks. Meski para dokter yang mempraktikkan hymenoplasty ini beralasan bahwa etika rekonstruksi selaput dara ini bisa dibandingkan dengan bedah plastik, pendapat ini tidaklah ilmiah.

Tindakan bedah plastik dilakukan pada bagian tubuh seperti wajah atau payudara dan tidak terkait dengan mitos. Para dokter diharapkan mempunyai tanggungjawab moral guna menghapus mitos yang menyesatkan dan tak bermanfaat. Dengan begitu, tindakan peniruan selaput dara atau hymenoplasty pada gadis yang sudah tidak perawan hanyalah akan menjadi upaya memelihara, mengabadikan mitos tentang selaput dara dan keperawanan

Serangan Tikus Rugikan Miliaran Rupiah Mei 14, 2008

Posted by tricyra in pertanian dan peternakan.
add a comment

Selama kurun waktu tiga bulan sejak Januari hingga Maret, Kabupaten Magelang mengalami kerugian mencapai Rp 2.700.000.000,- akibat serangan hama tikus dan puso di areal sawah seluas 794,1 ha. Bahkan di Kecamatan Candimulyo, sudah 1 tahun ini petani mengalami gagal panen.

“Apabila keadaan itu tidak ditangani secara serius dikhawatirkan akan mengancam ketahanan pangan masyarakat Magelang,” demikian dikatakan Assisten Pemerintahan dan Pembangunan yang juga ketua Satpel Bimas, Suharno dalam pencanangan gerakan pengendalian hama tikus di Balai Desa Tampir Kulon Kecamatan Candimulyo Kabupaten Magelang, Senin (16/4).

Di desa Tampir Kulon, lapor Suharno, dari areal seluas 120 ha yang terserang 1 ha dan terancam 50 ha, Tampir Wetan dari 44 ha terserang 1 ha terancam 2 ha dan desa Podosoko dari 47 ha terserang 2 ha dan terancam 10 ha. Karena kondisi yang demikian, masyarakat ke 3 desa mengambil inisiatif membasmi tikus dengan cara di karbit dan diberi belerang. Biaya pembelian pembasmi tikus juga merupakan hasil swadaya dari masayrakat setempat.

Bupati Magelang Drs H Hasyim Afandi yang mencanangkan gerakan itu menegaskan, gerakan pengendalian hama tikus tidak boleh berhenti. Sebab, binatang pengerat ini populasinya sangat cepat. Oleh karenanya, bupati menginstruksikan kepada seluruh camat se kabupaten Magelang untuk mengadakan gerakan pembasmian hama tikus sehingga pengendalian dapat dilakukan secara serempak dan sedini mungkin.

Bupati juga minta pada aparat penyuluh serta pakar pertanian untuk mempelajari sifat-sifat hakiki tikus dan diharapkan dapat memberantas dengan cara pengalihan obyek lain. Sebab diduga tanaman yang diserang belum tentu di makan namun hanya dikerat saja.

Lebih jauh dikatakan, 80 persen masyarakat kabupaten Magelang bergatung pada pertanian. Hanya sayangnya, sampai saat ini petani masih belum diuntungkan karena beberapa sebab. Itu sebabnya harus ada pemahaman dalam meningkatkan kesejahteraan dengan cara mencari solusi yang tepat misal saat panen harga bisa tinggi. Petani juga dihimbau untuk terus menguasai pangsa pasar. (tie)